Sunday, October 31, 2010

video of angklung

Why they use bamboo to make Angklung ?

Bamboo is a type of plant of the grass family and easily find through out Asian region including South East Asia. According to Professor Kuo-Huang Han from School of Music, Northern Illinois University, there are at least two reasons :

1. From the material culture
Bamboo is strong but light and elastic. Throughout the ages, it has been used for a great variety of purposes. It is used as building material for houses, fences, bridges, irrigation pipes, bulletin boards, tables, chairs, and beds. It is also used as a carrying pole, a walking stick, chopsticks, water containers, cups, pencil holders, bow and arrows, etc. Split bamboo is used for weaving nets, hats, baskets, and umbrellas. Finally, bamboo shoots and bamboo seeds can be eaten. I remember that my granny loves to cook young bamboo (it calls rebung in my language, you may make some spring rolls from it, and it is delicious)

Bamboo pulp fibers were used to make paper. In ancient times, bamboo slips were used for carving characters. In art, bamboo is used for handicrafts. In the realm of music, many musical instruments were and still are made of bamboo.

2. From the spiritual culture  .
Bamboo grows rapidly. It is seen as embodying the force of growth and fertility in many Asian societies. The Dusun people of north Borneo Island (Kalimantan, Indonesia) pay homage to a sacred bamboo to assure fertility and also believe that yellow bamboo can ward off evil spirits. In Taiwan, myth tells how bamboo was brought to earth by a man from heaven. In India, myth tells how King Rama’s wife, Sita, had an extra finger on one hand, which she cut off and planted. From it grew a bamboo plant, which in its sections contained all kinds of grain, which became available to human kind through a hole in the bamboo, chewed there by a pig. (Wessing 1998: 51)

Since bamboo is such an important material in Asian people’s lives, it is not surprising to find numerous bamboo musical instruments. As far as Southeast Asia is concerned, bamboo is used for three out of four categories of musical instruments, namely, aerophones (winds), chordophones (strings), and idiophones (percussion without membrane).
What Is Angklung

Angklung is a traditional music instrument that made from raw materials called bamboo which is the way in jolty (noise caused by the body of bamboo pipes) so that the sound vibrate in the order of tone 2, 3, 4 in the tone of each size , Both large and small. Pitch (tone) music equipment Angklung music as a tradition, mostly Sundanese and Salendro Pelog. Angklung is originated from Indonesia and West Java (The Land of Pasundan) region specially

Angklung 8 nada:

Angklung 8 nada adalah rangkaian angklung yang paling sering ditemukan,karena selain untuk souvenir,angklung 8 nada juga dapat dimainkan untuk melody lagu lagu sederhana.


* 8(Delapan) Nada, yang terdiri dari; Nada c, d, e, f, g, a dan c dengan jumlah keseluruhan 8(delapan) Nada paling tinggi. Khusus untuk angklung jenis ini biasa digunakan untuk anak TK (Taman Kanak-kanak) karena ukurannya yang cukup kecil.

Untuk anak TK di biasanya ditambahkan batang penutup bagian atas angklung agar aman dimainkan.

Harga angklung 8 nada berkisar rp450.000,-

contact pembuat:
Petrus kaseke
http://www.kolintang.co.id
http://facebook.com/angklung
Asal-usul Angklung


Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.

Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

-----------------------------------------------------------------------------------------------

In the Hindu period and the era of the Kingdom of Sunda, the people of Sunda, as West Java is called, used the angklung to signal the time for prayer. Later, in Kingdom of Sunda these instruments were used as martial music in the Bubat War (Perang Bubat) as told in the Kidung Sunda.

The angklung functioned to build community spirit. It was used by the Sundanese until the colonial era (Dutch East Indies, V.O.C). At that time, the Dutch East Indies government forbade the playing the angklung. Because of this, the popularity of the instrument decreased and it came to be played only by children.[citation needed]

The angklung got more international attention when Daeng Soetigna, from Bandung, West Java, expanded angklung tuning not only to play traditional pélog or sléndro scales, but also the diatonic scale in 1938. Since then, angklung is often played together with other western music instruments in an orchestra. One of the first well-known performances of angklung in an orchestra was during the Bandung Conference in 1955. A few years later, Udjo Ngalagena, a student of Daeng Soetigna, opened his "Saung Angklung" (House of Angklung) in 1966 as a centre for its development.
Dukung "Angklung is Indonesia" Jadi warisan Budaya
Bandung, Jabar - Tidak dipungkiri angklung menjadi salah satu ciri khas Indonesia. Untuk lebih menjamin keberadaan angklung dan pentingnya pelestarian angklung, munculah program kampanye 'Angklung is Indonesia'. Apa sih 'Angklung is Indonesia'? Program kampanye dari organisasi non profit ini mengajak seluruh warga negara Indonesia untuk mendapatkan dukungan publik secara luas dalam melestarikan dan mengembangkan angklung.

"Program ini adalah upaya nyata dalam menjawab kriteria yang diajukan oleh UNESCO dalam nominasi angklung Indonesia. Sekaligus memberitahukan kepada masyarakat tentang proses pendaftaran angklung
sebagai warisan budaya tak benda asal Indonesia," ujar salah satu pencetus 'Angklung is Indonesia, Satria Yanuar Akbar, di Gedung Indonesia Menggugat, Senin (9/8/2010).

Menurut Satria, salah satu syarat agar angklung bisa menjadi warisan budaya tak benda asal indonesia yakni public awareness atau respon dari masyarakat Indonesia sendiri."Kalau masyarakat Indonesia tidak tahu apa-apa soal angklung, bagaimana UNESCO mau mengakui. Untuk itulah kita mengkampanyekan 'Angklung is Indonesia' bersama-sama," terang Satria.

Organisasi ini terdiri dari orang-orang pecinta angklung, mereka juga mengajak komunitas angklung lain di seluruh Indonesia untuk bergabung menyatukan suara agar angklung benar-benar menjadi alat musik ciri khas Indonesia.

Sekretariat Angklung is Indonesia berada di Jalan Ir H Djuanda No 423, anda tidak perlu mendaftar untuk ikut dalam organisasi ini, hanya tinggal menyosialisasikan angklung, anda sudah ikut mendukung gerakan 'Angklung is Indonesia'. "Ini juga tidak ada yang membiayai. Malah ada yang nanya sama saya, biaya kampanye dari mana, saya bilang dari Allah SWT, karena tidak ada yang membiayai ini. Ini organisasi non profit," tandasnya.
(avi/ern)



Sumber: http://bandung.detik.com
'Bohemian Rhapsody' Versi Angklung Pukau Publik Inggris


REPUBLIKA.CO.ID, LONDON-- Lagu 'Bohemian Rhapsody', karya kelompok musik legendaris asal Inggris, Queen, yang dibawakan dengan apik oleh kelompok musik Angklung pimpinan Daeng Oktafiandi Udjo berhasil memukau lebih dari 200 undangan yang memenuhi Conway Hall, Red Lion Square, di pusat Kota London, Rabu (27/10) malam.

"Sangat bagus dan menakjubkan," ujar Diccon Pullen dari Royal Asiatic Society kepada koresponden Antara London, usai pementasan pagelaran budaya yang bertajuk "The Heritage of Indonesia" yang diadakan KBRI London bekerja sama dengan Masyarakat Pecinta Seni Budaya Cinta Nusantara (Citra) binaan Letjen TNI (Purn) Agum Gumelar.

Lesley Pollen mengatakan, dirinya tidak pernah membayangkan penampilan dengan alat musik angklung yang begitu indah. Pecinta kain Indonesia itu juga mengakui semua orang sangat menikmati pertunjukan dan merupakan malam yang sangat berkesan.

"Anda perlu ruangan yang lebih besar," ujar mantan Dubes Inggris untuk Indonesia, Charles Humprey, yang datang bersama istri dan berencana akan berlibur ke Indonesia selama sebulan ke Bali, Flores dan Maluku.

Charles Humpresy mengakui bahwa ia bersedia membantu mengadakan acara serupa di tempat yang lebih luas dalam upaya mempromosikan Indonesia di Inggris. Dikatakannya, kelompok musik Citra ini berhasil membawa Indonesia ke London dengan beragam kesenian yang mereka tampilkan dari berbagai Indonesia.

Sementara itu, Duber RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Republik Irlandia, Yuri Thamrin, mengakui bahwa pagelaran seni budaya merupakan salah satu misi diplomatik Indonesia di luar negeri dalam upaya memperkenalkan kesenian Indonesia. "Ini merupakan bukti diplomasi budaya yang sangat efektif dalam memperkenalkan Indonesia di luar negeri khususnya kepada masyarakat Inggris yang ada di London," ujar Yuri Thamrin yang datang bersama sang istri, Sandra Thamrin.

Pagelaran budaya 'The Heritage of Indonesia' ini ditujukan untuk mempromosikan keragaman seni dan budaya Indonesia, yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisman ke Indonesia, ujarnya. Dalam pagelaran 'The Heritage of Indonesia', Daeng Udjo pada penampilan pertamanya mengaransemen lagu 'You Raise Me Up' dengan musik angklung, yang membuat para undangan di Conway Hall terpana dengan kepiawaian kelompok Daeng Udjo dalam membawakan lagu yang dipopulerkan kelompok musik Westlife itu.

Sebelum konser musik angklung yang dibawakan oleh hanya delapan personel dari kelompok Daeng Udjo, para penari Citra Nusantara menampilkan Tari Rapai Geleng, tari tradisional asal Aceh Selatan, yang ditampilkan dengan gerakan yang lincah dan gemuruh dengan diiringi alat musik rebana. Salah satu pengurus Citra Nusantara, Seminarti Gobel mengakui bahwa ia merasa puas dengan penampilan para penari kelompok Citra Nusantara yang membawa misi budaya Indonesia ke Inggris.

Pagelaran budaya 'The Heritage of Indonesia' ini merupakan sepotong gambaran dari keragaman dan keindahan budaya Indonesia, ujarnya. Dikatakannya, misi budaya Citra dengan 48 artis muda asal Indonesia yang membawakan berbagai macam tari tradisional, di antaranya Tari Nandak Ganjen asal DKI Jakarta, Tari Topeng asal dan Japong dari Jawa Barat, Tari Zapin dan Tari Piring asal Sumatera Barat.

Dikatakannya sesuai dengan misi dari pendiri Citra Agum Gumelar yang ingin melestarikan budaya Indonesia dan sekaligus memperkenalkannya kepada dunia luar keberagaman budaya Indonesia. Dalam pagelaran budaya itu juga ditampilkan peragaan busana dari kain Tenun dengan koreografi Ari Tulang, yang mengatakan tidak sulit mengatur anak anak dan pengalamannya selama ini membuat tugasnya menjadi ringan.

Peragaan busana kain tenun juga diikuti dengan presentasi dan demo pembuatan kain Tenun asal Nusa Tenggara Timur yang dilakukan Alfosa Horeng, pendiri sentra Tenun Ikat "Lepo Larun", Nusa Tenggara Timur yang mengatakan bahwa ia ingin melestarikan kain tenun Indonesia dan juga memperkenalkannya kepada kain tenun Indonesia ke dunia luar.

Para akhir acara para undangan masing masing mendapatkan satu angklung untuk dimainkan bersama dengan dipandu Daeng Udjo, mengajak para tamu untuk ikut memainkan angklung secara interaktif yang dengan mudah diikuti undangan dan mengiringi mereka dalam memainkan beberapa lagu populer.

Daeng Udjo mengakui bahwa ia sangat puas dengan sambutan penonton yang sangat antusias mengikuti angklung interaktif. "Seperti biasanya dan di mana pun juga para penonton sangat tertarik dengan alat musik angklung. Seharusnya kita bangga, para penonton dengan mudah memainkan alat musik Angklung yang diakui oleh UNESCO sebagai salah satu budaya Indonesia," katanya.

Acara pagelaran budaya 'The Heritage of Indonesia' ditampilkan Tim Kesenian Citra Nusantara yang sebelumnya tampil dengan sukses kota di Bern, Swiss, diawali dengan resepsi itu para tamu dijamu dengan hidangan khas Indonesia, seperti sate ayam, mie goreng, martabak telur.


Red: Djibril Muhammad